I Am Happy Than Ever! (Konfession)


Hai Ladies..

 
Kali ini saya akan sedikit sharing tentang warna kulit wajah atau tubuh saya. Hmm, sebetulnya kurang afdol sih, soalnya entah kenapa foto-foto saya jaman SMP, SMA, bahkan kuliah pada hilang semua kecuali beberapa foto di tahun terakhir S1. Jadi saya tidak bisa membeberkan secara lengkap perbedaan kulit wajah saya dulu dan sekarang.

 
Jadi gini Ladies, dari dulu.. Jaman saya pertama kali puber, saya ngerasa minder dengan warna kulit saya. Saat itu saya pikir, kulit saya ko item banget. Tapi saya ga bisa berbuat apa-apa, soalnya saat itu saya masih kecil. Jadi saat pergi ke swalayan dengan orang tua, saya diam-diam mengambil berbagai macam produk seperti pelembab dan pemutih untuk dibeli, dengan harapan apa yang dikatakan oleh iklan-iklan itu benar adanya.

 
Selama beberapa tahun saya begitu terobsesi dengan kulit putih tapi saya pikir itu normal, karena pandangan orang Indonesia kebanyakan tentang kecantikan adalah kulit putih, seputih mutiara. Lalu saat saya SMA meledaklah film-film Taiwan, dimana pemain cewenya semuanya berkulit putih. Fenomena itu membuat saya semakin terobsesi memiliki kulit yang putih, namun lagi-lagi saya belum punya “kekuatan” untuk berbuat apa-apa karena saya masih sekolah dan ide menjadi dewasa belum sepenuhnya merasuk dalam pikiran saya.

 
Lalu, saat saya kuliah, saya merasa mulai memiliki power untuk melakukan apa yang saya inginkan terhadap tubuh saya. Hal pertama yang saya lakukan adalah melakukan apa yang menjadi obsesi saya dari dulu : saya ingin putih! Saya mulai memakai krim pemutih, krim dari dokter, suntik vitamin c, dan lain-lain. Setelah itu, tentu saja saya menjadi putih. Tapi..

 
Oke, anggaplah saya ceroboh total, dan yah, memang itu yang saya lakukan : kecerobohan. Kulit saya memang putih, merona, dan memang mulus seperti yang semua iklan katakan. Tapi hanya kulit muka saja, damn! Foto dibawah adalah saya saat tahun terakhir kuliah, bisa saya katakan foto itu nyata, tanpa edit. Saya adalah cewe yang pakai baju biru, dan berapa shade lebih terangkah warna kulit muka saya daripada kulit leher saya? Ini yang saya lihat : undertone muka dan leher berbeda, kulit muka setidaknya 4 shade lebih terang, warna kulit secara keseluruhan tampak merona DAN kelabu. Pertanyaannya, ko bisa saya sebegitu cerobohnya? Saat itu saya pakai kerudung, jadi saya tidak begitu memperhatikan keseimbangan warna kulit muka dan leher, tapi saat kerudung dibuka, barulah terlihat bedanya.

family (5)
Well, itu baru perbedaan kulit muka dan leher yah.. Belum lagi perbedaan rona pada kulit muka dan kulit tubuh secara keseluruhan. Nah, setelah memakai produk pemutih, kulit muka saya jadi merona merah muda. Saat itu saya belum mengerti underone, jadi yang saya tahu : saya bingung memilih warna foundation. Karena saat saya swatch ditangan, tampak cocok. Tapi saat saya pakai di muka, kulit saya terlihat kusam. Hal itu karena kulit tangan saya memiliki undertone netral-kuning, sedangkan kulit wajah saya setelah memakai pemutih berubah menjadi ber-undertone netral-pink. Pada akhirnya saya tidak pernah memakai foundation sama sekali.

 
Lalu, setelah selesai kuliah, saya menikah dan hamil. Saat itu saya benar-benar stop menggunakan pemutih, obat dokter, suntik vitamin, ataupun perawatan wajah lainnya. Hasilnya wajah saya jadi menggelap lagi, ditambah sebagaimana umumnya orang hamil, hormon membuat kulit saya jadi lebih gelap dan kucel lagi. Keadaan tanpa pemutih tersebut berlangsung selama hamil sampai menyusui dan anak saya berumur 1,5 tahun.

 
Setelah itu, saya mulai membaca artikel-artikel mengenai makeup, kosmetik, atau perawatan wajah lainnya. Saya mulai ngeh tentang undertone, dan ZAP! Misteri tentang warna foundation yang tidak match akhirnya terpecahkan. Lalu saya membeli satu eyeshadow dengan warna yang paling cantik menurut saya, lalu saya swatch di tangan saya. Kemudian saya menyadari kalau saya betul betul bronze goddess (halah, jijik!). Foto dibawah ini merupakan swatch eyeshadow warna bronze yang jadi favorit saya dari dulu hingga sekarang, dan lihatlah, betapa dekatnya warna-warna tersebut dengan warna kulit saya.

8
Selain itu, saya pun berganti gaya makeup dari yang ke-korea-an, ke gaya makeup ke-USA-an. Yang saya tangkap, gaya makeup ke-korea-an lebih menekankan pada kulit yang merona pink. Sedangkan gaya makeup ke-USA-an lebih menyukai warna kulit yang lebih gelap, lebih tan, lebih bronze-ish, dan saya pikir ini lebih cocok dengan saya.
Sekarang saya tidak perlu susah payah lagi mengumpulkan uang buat pergi ke dokter, suntik vitamin c, atau beli krim pemutih, karena saya sudah menerima warna kulit saya apa adanya. Jika dulu saya langsung ciut ga pd, saat ada orang lain bilang, “ko kamu item banget sih”. Kalau sekarang justru saya jadi males kalo ada SPG kosmetik yang bilang gini “kulit kakak kan putih, jadi cocoklah pakai foundation warna ini (sambil nyodorin foundation yang warnanya jauh banget dari warna dan rona kulit saya)”.

contour and highlight
So, jujur deh, pada titik ini saya merasa lebih PD, saya bangga dengan warna kulit saya yang tan tanpa harus berjemur atau pakai fake tan, saya senang karena dengan sedikit sentuhan shimmer kulit saya yang tan langsung berubah menjadi bronze. Ladies, orang bule mati-matian pengen kulitnya item kaya kitaaaaa! Sampai sekarang, saya tidak pernah lagi pakai produk yang memutihkan lagi, saya lebih concern pada moisturizer untuk jenis kulit saya (berminyak) dan foundation yang warnanya sama seperti warna kulit saya.

 
Tapi ada satu yang menurut saya cukup mengecewakan, kenapa yah industri kosmetik lokal di Indonesia (apalagi yang murmer) rata-rata hanya menyediakan 2-4 shade foundation saja? Padahal warna kulit orang Indonesia itu benar-benar beragam. Dari yang betul-betul gelap sampai yang betul-betul terang, dari yang rona pinknya benar-benar kentara sampai yang rona kuningnya amat terlihat. Gara-gara hal itu saya harus nabung buat beli foundation yang harganya rada mahal tapi warnanya sesuai dengan warna kulit saya. Saya benar-benar berharap ada kosmetik lokal yang affordable tapi punya sederet shade yang bervariasi.

 
Well, kesimpulannya, Ladies.. Jangan pernah hal seperti warna kulit membuat kita down dan ga PD, kita sudah dari awalnya cantik. Yang perlu kita lakukan adalah merawat kulit kita yang sudah cantik, bukan mengubahnya ke warna lain yang KITA PIKIR lebih cantik dari warna kulit kita sekarang.

 
Sekian dulu postingan kali ini semoga bermanfaat. Thanks and take care, Ladies. Smooch!

 

PS : cari tahu disini tentang undertones

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s